DANKOLAK KORPS MARINIR
Komandan Brigif 4 Mar/BS
KOLONEL MARINIR KANANG BUDI RAHARJO, M.TR.HANLA.,
CHRMP
Perjalanan itu dimulai dari Tuban, 25 Agustus 1979.
Seorang anak yang tumbuh besar di pesisir utara Jawa itu memilih jalan yang tidak mudah. Pada tahun 1997, di usia 18 tahun, ia masuk ke Kawah Candradimuka - Akademi Angkatan Laut Angkatan 43. Dari sanalah Baret Ungu mulai melekat di kepalanya, dan tidak pernah lepas hingga hari ini.
Ia bukan perwira yang lahir dari ruang ber-AC.
Tahun 2003, saat Merah Putih sedang diuji di ujung barat Indonesia, namanya tercatat dalam Satgas Marinir Rencong Sakti XVIII Aceh. Ia merasakan langsung apa artinya operasi tempur, tidur di hutan, dan memimpin prajurit di daerah konflik. Dari Aceh ia belajar, bahwa pangkat adalah amanah, bukan kebanggaan.
Selepas Aceh, langkahnya menapaki satu demi satu tangga kedinasan Korps Marinir. Dari Danton Ban di Brigif-2 Pasmar-2, Danton Yonif-2, Kasiops, Pasi-1, Pasi-2, hingga menjadi Danyon. Ia pernah menjadi Perwira Operasi di Lantamal Jakarta, mengurusi peta dan manuver di wilayah paling vital, dan pernah duduk di Sops Kormar dan Disinfolahta, memikirkan strategi besar Korps.
Tapi negara memanggilnya ke tempat yang lebih senyap dan lebih tinggi risikonya.
Ia dipercaya masuk ke lingkaran Ring 1 Istana Negara. Bertugas di Paspampres, di Grup C dan Denma Mabes TNI. Di sana tidak ada sorak-sorai defile. Yang ada hanya ketenangan, presisi, dan loyalitas tanpa batas untuk menjaga Kepala Negara. Tidak semua prajurit Marinir bisa sampai di sana. Hanya yang teruji.
Di sela-sela penugasan yang padat, ia tidak pernah berhenti belajar. S1 Hubungan Internasional ia selesaikan tahun 2018, S2 Magister Manajemen di STIMA IMMI Jakarta tahun 2021. Puncaknya, ia menembus pendidikan tertinggi bagi seorang perwira TNI - Seskoal Angkatan 50 dan Sesko TNI Angkatan 61 tahun 2023. Dari prajurit lapangan, ia kini menjadi seorang pemikir militer bergelar M.Tr.Hanla.
Di dadanya, tersemat tujuh tanda kehormatan. Bintang Jalasena Nararya, Satya Lencana Kesetiaan VIII, XVI, XXIV Tahun, Wira Karya Sosial, Wira Siaga, dan Dharma Nusa. Setiap lencana adalah hitungan tahun pengabdian, keringat, dan waktu yang jauh dari keluarga.
Di belakang prajurit yang gagah itu, ada keluarga yang menjadi jangkar. Istri, Nur Ida Eliya, S.E., dan dua orang anak yang setia menunggu setiap kali ia berangkat tugas.
Kini, dengan NRP 16534/P dan pangkat Kolonel Marinir, ia mengemban amanah sebagai Komandan Brigif 4 BS. Membawa semua pengalaman itu - dari lumpur Aceh, dari sunyinya Istana, dari ruang kelas Sesko TNI - untuk memimpin ribuan prajurit Baret Ungu.
Dari Tuban untuk Indonesia.
